Jumat, 06 Mei 2011

Walhi: Sinar Mas "Rusak" Cagar Biosfer

Pekanbaru, 4/10 (ANTARA) - LSM Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyatakan, perusahaan perkayuan Sinar Mas Group melalui sejumlah mitranya sedang "merusak" Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Riau.

Direktur Eksekutif Walhi Riau Hariansyah Usman, di Pekanbaru, Senin, mengatakan, organisasi lingkungan itu menemukan tiga perusahaan mitra pemasok bahan baku industri pulp dan kertas Sinar Mas yang membabat hutan alam.

"Sedikitnya ada tiga kawasan konsesi yang berafiliasi ke Sinar Mas yakni PT Balai Kayang Mandiri, PT Rimba Mandau Lestari dan PT Sakato Pratama Makmur yang terus membabat hutan alam di Giam Siak Kecil-Bukit Batu," kata Hariansyah.
Bahkan konsesi PT Sakato Pratama Makmur sangat dekat, sekitar ujuh km dari zona inti cagar biosfer, yang kini menjadi daerah konflik manusia versus harimau meyusul tewasnya seorang warga akibat diterkam "si raja hutan" itu.

Harimau itu akhirnya tewas setelah dijebak warga dengan jerat seling pada Kamis (30/10).

Hariansyah mejelaskan, izin-izin penebangan rencana kerja tahunan tahun 2010 memungkinkan mitra Sinar Mas itu menebangi ribuan hektare hutan alam di area gambut berkedalaman lebih dari empat meter di zona penyangga dan transisi cagar biosfer.

Akses perizinan itu telah memiliki andil bagi penebangan liar dan perambahan di dalam lanskap Giam Siak Kecil-Bukit Batu yang berkontribusi bagi emisi karbon yang besar, bahkan semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Namun anehnya, kata dia, perusahaan yang bernaung di bendera Asia Pulp and Paper (APP) dengan bangga telah "mengiklankan" cagar itu menjadi program konservasi mereka menyusul organisasi dunia UNESCO menetapkan Giam Siak Kecil-Bukti Batu sebagai cagar biosfer tahun 2009.

Sejak itu, raksasa perusahaan kertas nasional itupun mengintensifkan kampanye karena merasa telah berkontribusi bagi kawasan cagar biosfer sembari terus membuka lebih banyak hutan alam untuk produksi yang berakibat semakin menyempitnya habitat satwa.

"Kami mengimbau Sinar Mas untuk menghentikan penebangan hutan alam dan pembukaan gambut baik yang berada di batas cagar biosfer atau di kawasan penyangga," tegasnya.

Peneliti LIPI menyatakan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukti Batu memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi dan menjadi rumah bagi 150 spesies burung, 10 jenis mamalia termasuk harimau sumatera, delapan jenis reptil dan 52 spesies tanaman langka dan dilindungi.

Menanggapi hal itu, humas Sinar Mas Forestry Nurul Huda menyatakan, pihak perusahaan dalam berusaha dan bekerja sudah sesuai dengan izin dan ketentuan yang berlaku, termasuk pembagian kawasan konservasi dan tanamn industri perusahaan.

"Jadi kita minta usaha perusahaan dalam penempatan area konservasi dapat diapresiasi, jangan hanya menuding dengan pikiran skeptis dan cenderung negatif," katanya.

Sebelumnya, Nurul mengakui pihaknya menggunakan kayu alam berkisar 5-10 persen dalam pembuatan bubur kertas di pabrik PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP) yang memiliki kapasitas dua juta ton per tahun di Perawang, Riau.

Kayu alam diperlukan terutama untuk mengambil serat panjang dari kayu yang diperlukan dalam pengolahan bubur kertas. Namun Nurul membantah perusahaannya menjadi penadah kayu hasil penebangan liar.

http://www.antarariau.com/id/modul/11493/walhi:-sinar-mas-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar